Satu kata itu
punya beragam makna, bagi sebagian orang mungkin menjadi momok yang cukup
“menyeramkan”. Tapi setelah aku menjalani langsung tidak seburuk itu, kok
Entah karena
banyak faktor keberuntungan, dimudahkan jalannya sama Allah atau karena aku
bikin enjoy aja jalaninnya, karena skripsi aku anggap satu bagian hidup yang
harus aku jalani, mau tidak mau, siap tidak siap. Aku tidak mematok diriku
untuk lulus cepat, karena aku tau gimana keadaan di jurusan ku, jarang yang
lulus cepat karena urusan topik skripsi dan bimbingan cukup strict. Tapi
aku bersyukur karena dengan begitu aku tidak asal-asalan membuat skripsi, jadi
mau tidak mau dituntut berkualitas. Walaupun skripsi ku tidak sebagus itu (aku
akui dan aku sadari itu masih banyak kekurangan).
Awal pembagian
pembimbing, aku cukup kaget karena mendapatkan dosbing pertama yang sama sekali
belum pernah bertemu apalagi mengajar, jadi sama sekali belum tau sifat dan
karakter beliau (baru selesai study S3 di Jepang). Ada 2 pembimbing di
univ ku, pembimbing 1 dan 2, dan keduanya masyaAllah orang sibuk, hehe. Dosbing
1 ku adalah Kajur pascasarjana dan dosbing 2 ku adalah Kajur S1ku. Tapi
alhamdulillah aku terhitung masih bisa lulus tepat waktu, lhooo (4 tahun 23
hari) jadi aku lulus S1 diusiaku masih 21 tahun.
Aku mulai
proposal bimbingan dan lain-lain akhir semester 7 (selesai KKN dan PKL).
Merasakan berada di Final Project Defense Room untuk Sempro Selasa, 4
April 2017 pukul 13.00 WIB. Sidang Rabu 13 September 2017 pukul 10.00 WIB dan
25 September 2017 dinyatakan lulus karena sudah selesai semua revisian dan
ditandatangani lembar pengesahan skripsi (kalau tidak salah dulu itu tolak ukur
tanggal lulusnya, apa pas udah daftar wisuda ya, lupa hehe) dan wisuda Rabu, 17
Desember 2017. Padahal dulu aku skripsian sambil tetap aktif ngelesin private
dan jadi tim persiapan akreditasi pascasarjana. Untuk organisasi sudah off
sejak semester 7 awal.
Sebenarnya
skripsi itu dipengaruhi oleh banyak sekali hal, berikut tips dan trik
berdasarkan pengalaman yang sudah aku jalani untukmu yang belum melewati aduhai
indahnya masa-masa skripsi itu heheh, here we go:
1. Pemilihan latar belakang dan masalah penelitian
Masalah penelitian adalah hal utama yang harus kamu cari sebelum membuat proposal skripsi. Kenapa ? karena kita melakukan penelitian berdasarkan masalah yang ada. Kalau tidak ada masalah kenapa harus repot-repot diteliti ? Nah karena aku jurusan kesehatan, cukup mudah mendapatkan data sekunder yaitu dari institusi pendidikan seperti Kemenkes, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan, Rumah sakit atau puskesmas tergantung data yang mau kita ambil ditingkat apa.
Latar belakang masalah juga harus kuat karena basic dari pembuatan proposal adalah di latar belakang. Ketika nanti seminar proposalpun yang harus bisa kita pertahankan dihadapan pembimbing dan penguji adalah latar belakang. So, cari referensi sebanyak mungkin, jurnal nasional maupun internasional dan penelitian-penelitian terdahulu. Bisa juga kita mengambil topik dari saran penelitian yang sebelumnya telah dilakukan (atau melanjutkan penelitian orang lain) jika masih perlu dilakukan penelitian lanjutan berdasarkan keurgentiannya.
2. Ambil topik penelitian yang mampu laksana
Yang dimaksud mampu laksana disini kita harus sedikit banyak memperhitungkan hal-hal seperti kesanggupan kita dalam menyelesaikan penelitian ini baik dari segi waktu, tenaga, maupun biaya. Karena SKRIPSI YANG BAIK ADALAH SKRIPSI YANG SELESAI. Desain dan metode penelitian sangat penting disini karena contoh saja jika kita menggunakan cohort maka kita harus melihat dimasa depan tentang variabel yang kita teliti, hal itupun belum dapat dipastikan batasannya. Meskipun cohort adalah design penelitian dengan tingkatan tertinggi tetapi jika kita tidak mampu dalam hal waktupun baik untuk tidak menggunakan design tersebut.
Perhatikan juga tempat penelitian kaitannya dengan mampu laksana dalam hal biaya agar penelitian kita tidak berhenti ditengah-tengah dikarenakan tidak adaya biaya. Buat hitungan kasar dari hal-hal yang kemungkinan kita perlukan ketika penelitian sampai akhir skripsi nanti.
3. Perbanyak membaca dan literasi
Literasi adalah faktor yang tidak kalah penting karena berkaitan dengan konten dari skripsi itu sendiri. Semakin kita banyak membaca, semakin banyak tau tentang penelitian-penelitian sebelumnya, sumber-sumber yang mendukung data penelitian dan masih banyak lagi. Apalagi skripsi semua harus based on data. Beberapa kampus mungkin menerapkan jangka waktu maksimal daftar pustaka yang kita gunakan, kalau dikampus ku maksimal 5 tahun terakhir untuk jurnal (internasional maupun nasional) dan 10 tahun terakhir untuk buku.
Untuk jurnal international (terutama kesehatan) kalian bisa akses beberapa jurnal berikut yang menurutku literasinya lengkap, open access (free) dan up to date, diantaranya oxcford journal, ncbi, BMJ open, PLOS medicine, BioMed central dan masih banyak lagi. Tapi diantara sekian banyak itu andalanku adalah oxcford journal.
Untuk mempermudah dalam sitasi dan pembuatan daftar pustaka, ada baiknya kamu menginstall aplikasi Mendeley. Dalam Mendeley terdapat option selingkung penulisan daftar pustakanya apakah menggunakan Harvard atau yang lain, tinggal kita sesuaikan dengan peraturan kampus. Pengaplikasiannya adalah buat 1 folder khusus literasi yang dicantumkan dalam skripsi. Setiap kalimat yang kita kutip dari sumber tersebut nantinya otomatis akan ter link di daftar pustaka. Untuk lebih detailnya bisa googling tutorialnya yaaa.
![]() |
| Logo Aplikasi Mendeley |
4. Pahamilah baik-baik karakter dosen pembimbing maupun penguji
Karena sepanjang skripsi kita akan terus berhubungan dengan dosen pembimbing dan penguji, maka ikutilah alur beliau. Ketahui apa yang beliau sukai dan tidak sukai, contohnya kedispilinan, peraturan bimbingan dan banyak lagi. Jangan sampai kita meninggalkan kesan buruk dimata beliau, karena ini adalah hal yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang. Setiap dosen punya gaya maupun peraturan yang beragam. Mulai dari cara bimbingan berkelompok maupun individu, membuat janji sebelum bimbingan maupun fleksibel, ataupun bimbingan face to face maupun by email. Semua ada kurang lebihnya, tapi dosen selalu ingin mendidik mahasiswanya dengan baik, jadi tidak ada yang salah dengan itu, toh karakter manusia berbeda-beda.
5. Sebisa mungkin setiap hari ‘menyentuh’ skripsi
Ini adalah bagian terberat, pasti bosen dan jenuh ya skripsi itu ? Bangett. Tapi jika dalam 1 hari saja kita tidak menyentuh skripsi, maka akan semakin males untuk hari berikutnya mengerjakan. Dalam hal ini perlu sedikit dipaksakan sih memang, entah kita hanya membaca jurnal untuk literasi maupun hanya menuliskan 1 kalimat, itu sudah termasuk progress. Dont worry, a little progress is still progress.
Tanamkan dalam benakmu, sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Siapa tau setelah membaca jurnal itu menambah wawasan kita yang bisa kita tulis di draft skripsi. Atau ada semangat menulis yang awalnya hanya 1 kalimat menjadi 1 paragraf, 1 halaman, 1 sub bab atau bahkan 1 bab. Mood orang tidak ada yang tau, bukan ?
6. Tempatkan dirimu dilingkungan yang positif dan mendukung penyelesaian skripsimu
Hindari toxic circle yang bikin kamu males skripsian, contohnya teman-teman yang males dan menganggap remeh skripsi, yang menunda-nunda pengerjaan dan lain-lain. Buat mood dan fikiran kita sepositif mungkin. Kadang main dan nongkrong itu perlu kok sesekali. Itung-itung recharge energi. Kamu adalah yang paling tau tentang dirimu. Jika moodboostermu adalah musikan, nonton film, main sama temen, kumpul-kumpul it’s okay, just do that. Asal tau batasan dan porsinya, jangan sampai justru membuat si honey bunny sweety skripsi ini terbengkalai yaa. Kembali ke niat awal. Karena dulu prinsipku juga gitu, main jalan tapi skripsi selesai, hehehe kuylaaah semangat skripsiannya.
7. Jangan sering pulang kampung
Point ini terlihat paling sepele tapi punya pengaruh yang cukup besar, sekali kamu pulang kampung, kamu bakal males balik ke kos karena kebayang bakal ngerjain skripsi dan lain-lain. Padahal setelah skripsi selesai pun masih Meanwhile dimasa-masa skripsi tidak ada batasan kapan kamu libur kapan harus ke kampus. Semua tergantung diri sendiri kecuali bagi yang punya dosen pembimbing care dan rajin nyariin mahasiswa bimbingannya kalau udah lama ngilang.
Ohya, aku juga prefer jangan ambil tempat penelitian di kota asal kita. Karena bisa jadi kita harus bolak-balik ngurus perijinan surat dari kampus ke lahan atau sebaliknya. Penelitian di kota dimana kita kuliah lebih memudahkan menurutku, saat penelitian tentu kita butuh bantuan teman untuk sekedar menemani atau membantu menyebarkan kuesioner (tergantung metode penelitian si kalau ini).
Okayy mungkin
itu dulu sedikit tips dan trick dari aku, ambil positifnya buang negatifnya
yaa. Intinya harus banyak sabar, tekun, perbanyak ibadah dan dekatkan diri ke
Allah, minta restu orang tua dan dukungan dari lingkungan sekitarmu itu
penting. Yang tidak kalah penting, tanamkan dalam mindset kalau skripsi
itu ga seserem dan sesusah itu, dibikin enjoy saat menjalani akan terasa lebih
ringan dan lama kelamaan menikmati. Yepppp, selamat skripsian, skripsi itu
ibarat jodoh kok, pasti bertemu hehehhe ...
(Ditulis pada Februari 2018)

Comments
Post a Comment